Politik Uang: Dagangan Masa Depan dengan Kehancuran di Penghujung Jalan
- Istimewa/VIVA Medan
“Daftar Pemilih Tetap (DPT). Jika seorang kandidat memberi Rp 500.000 kepada 80.000 pemilih, mereka harus mengeluarkan Rp 40 miliar. Biaya ini belum termasuk operasional kampanye lainnya. Dengan pengeluaran sebesar itu, apakah masuk akal jika pemimpin tersebut berfokus pada rakyat ketika mereka menjabat?” sebutnya.
Realitanya, tegas Hendri Tumbur, mereka akan sibuk mencari cara untuk, mengembalikan modal melalui mark-up proyek. Menjual kebijakan kepada pengusaha besar. Mengurangi anggaran publik untuk kepentingan pribadi. Paradoks Memilih dengan Uang Politik uang adalah paradoks paling kejam: uang yang Anda terima hari ini untuk memilih seorang pemimpin akan kembali menghantam Anda dalam bentuk ketidak adilan, kemiskinan, dan ketertinggalan. Amplop yang Anda terima hari ini mungkin cukup untuk memenuhi kebutuhan Anda sesaat, tetapi biayanya adalah lima tahun penderitaan tanpa akhir.
Mengapa Menolak Politik Uang adalah Revolusi
1. Menegakkan Martabat Rakyat
Suara Anda adalah cerminan martabat Anda. Dengan menolak politik uang, Anda mengembalikan nilai demokrasi sebagai alat perubahan, bukan alat transaksi.
2. Mencegah Korupsi yang Sistemik
Politik uang adalah akar dari korupsi. Dengan memutus mata rantainya, Anda membantu menciptakan pemerintahan yang lebih transparan dan akuntabel.