Politik Uang: Dagangan Masa Depan dengan Kehancuran di Penghujung Jalan
- Istimewa/VIVA Medan
Politik uang adalah investasi. Tetapi investasi siapa? Investasi calon, bukan rakyat. Ketika seorang kandidat mengeluarkan miliaran rupiah untuk membeli suara, siapa yang akan membayar harga sebenarnya? Rakyat. Dalam bentuk proyek fiktif, infrastruktur setengah jadi, dan pelayanan publik yang mandek.
3. Korupsi yang Mengakar
Ilustrasi uang hasil kejahatan.
- VIVA
Politik uang adalah pintu gerbang menuju korupsi. Dari pejabat yang memanipulasi anggaran hingga pengusaha yang membayar untuk kebijakan menguntungkan, hasil akhirnya selalu sama: rakyat menjadi korban. Uang yang seharusnya digunakan untuk pendidikan, kesehatan, dan pembangunan malah masuk ke kantong pribadi segelintir orang. Ironi Rp273 Per Hari.
“Jika suara Anda dihargai Rp500.000 untuk lima tahun masa jabatan, itu setara dengan Rp273 per hari. Dengan uang sebanyak itu, Anda bahkan tidak bisa membeli segelas kopi, tetapi Anda menyerahkan masa depan Anda untuk itu. Ketika harga suara menjadi serendah ini, apa artinya harga diri Anda?," paparnya.
Politik Uang: Bukan Sekadar Amplop, tapi Perampasan Masa Depan “Mari kita perjelas, politik uang bukan hanya tentang menerima atau menolak uang dalam amplop. Itu adalah siklus penghancuran yang dimulai dari ketidak pedulian rakyat dan berakhir dengan keruntuhan nilai-nilai demokrasi,” jelasnya.
Ketika menerima uang itu, maka penerima tidak hanya menjual suara. Tetapi menjual: Hak anak Anda untuk mendapatkan pendidikan berkualitas. Kesempatan keluarga Anda mendapatkan layanan kesehatan yang layak. Kemungkinan desa Anda mendapatkan pembangunan infrastruktur yang baik. Realitas Biaya Politik Uang. Bayangkan sebuah daerah dengan 141.000.