Soroti Honor Tenaga Medis Rendah, Prof Ridha : Tidak Sebanding dengan Tanggungjawabnya Besar
- Istimewa/VIVA Medan
"Seperti sebuah pribahasa asing, kalau kami kasih kacang kami akan dapat monyet. Pribahasa ini berbanding lurus dalam menghargai seseorang dengan prestasinya, terlebih tenaga kesehatan," ucapnya.
Disinggung berapa kisaran honor yang layak harusnya diterima tenaga medis, menurut pria yang berprofesi sebagai dokter spesialis bedah itu adalah saat penghasilannya mampu memenuhi kebutuhan keluarganya, baik itu biaya pendidikan dan juga biaya hidup keluarga.
"Mengingat tuntutan tenaga medis bekerja itu, luar biasa karena berhadapan dengan hajat hidup orang banyak. Jadi, tidak sebanding (honor diterima) dengan tanggungjawabnya besar juga," ungkap Prof Ridha.
Prof Dr dr Ridha Dharmajaya, SpBS (K)
- Istimewa/MEDAN VIVA
Untuk itu, dirinya berharap pemerintah menjadikan hal ini sebagai perhatian agar Indonesia bisa bersaing dengan luar negeri.
Sebelumnya, rendahnya honor tenaga medis non ASN menguak setelah diungkapkan Sekretaris komisi 2 DPRD Kota Medan, Drs. Wong Chun Sen Tarigan. Dirinya menerima informasi bahwa honor tenaga medis non ASN di kota Medan masih rendah dan di bawah Upah Minimum Kota (UMK) sehingga perlu mendapat perhatian dari pemerintah Kota Medan termasuk juga Rumah Sakit yang mempekerjakan tenaga medis. Dikatakan Wong, tenaga medis Non ASN di Kota Medan yang masih menerima honor kerja itu adalah perawat, bidan dan dokter.
“Bahkan ada saya temukan, honor dokter itu hanya Rp75 ribu per 1 ship kerja. Sehingga jika ditotal perbulan hanya berkisar Rp2 jutaan perbulan. Ini perlu perhatian dari pemerintah pusat dan daerah, agar ada standart honor tenaga medis di kota Medan dan paling tidak disesuaikan dengan UMK kota Medan saat ini,”ujarnya saat menghadiri acara pertemuan tindak lanjut komunitas dan pemangku kepentingan jejaring DPPM untuk optimalisasi pemenuhan standar pelayanan minimal (SPM) terkait layanan TBC di Kota Medan di Grand Mercure beberapa waktu lalu.