Tercatat 47 Kali Karhutla di Sumut, dengan Area Terbakar Capai 273,87 Hektar

Kepala BPBD Sumatera Utara, Tuahta Ramajaya Saragih saat memberikan keterangan pers, di Kantor Gubernur Sumut.
Sumber :
  • Bagus Syahputra/VIVA Medan

Medan, VIVA Medan–Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara (Sumut) mencatat sepanjang 1 Januari hingga 4 September 2026, sudah 47 kali terjadi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Sumut. Total luas area terbakar di Sumut tercatat mencapai 273,87 hektar. 

img_title Muktamar ke-49 Muhammadiyah 2027 di Sumut, Bobby Nasution: Momentum Dongkrak UMKM dan Pariwisata

Karhutla di Sumut tersebar 14 Kabupaten/Kota di Sumut. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut dengan pemerintah setempat sudah melakukan penanganan agar kebakaran tidak meluas ke wilayah lain.

"Meskipun posisi karhutla Sumut berada di peringkat 8 atau 9 secara nasional, bukan berarti kita bisa lengah. Kita sudah menempatkan personel dan peralatan pendamping di Samosir untuk memback-up BPBD setempat," sebut Kepala BPBD Provinsi Sumut, Tuahta Ramajaya Saragih, Sabtu 4 September 2026.

img_title BMKG Ungkap Daftar Wilayah Berpotensi Diguyur Hujan Lebat Awal November, Aceh dan Sumut Status Siaga

Tuahta mengatakan menjadi fokus penanganan pemadaman di Kabupaten Samosir, yang sudah terjadi 4 kali karhutla. Apa lagi, Samosir merupakan objek wisata di kawasan Danau Toba. 

Tuahta mengatakan, instruksi tersebut menjadi acuan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan mitigasi dan kesiapsiagaan, terutama dalam mengantisipasi karhutla di sejumlah wilayah rawan seperti Samosir, Padang Lawas, Simalungun, dan Labuhanbatu.

img_title Pelanggaran Turun 31,7 Persen, Ini Hasil 6 Hari Operasi Patuh Toba 2026 di Sumut

Tuahta mengungkapkan bahwa pihak BPBD Sumut itu, juga ikut serta melakukan pemadaman api di Kabupaten Samosir. Ia mengatakan pihaknya, bukan tim utama hanya mendampingi BPBD Samosir dalam pemadaman api kebakaran tersebut.

"Alhamdulillah sudah dua minggu, baru semalam turun hujan. Hari ini juga agak mendung. Artinya ini akan kami pertimbangkan, akan kami tarik nanti mungkin personil kami dari sana untuk kami geser ke Sinabung," kata Tuahta. 

Kemudian, Pemprov Sumut meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah maupun kering yang masih mengancam sejumlah wilayah. Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Gubernur Sumut Bobby Nasution menerbitkan instruksi peringatan dini dan meminta seluruh pemangku kepentingan memperkuat langkah mitigasi serta kesiapsiagaan bencana.

Lanjut, Tuahta menjelaskan berdasarkan peta risiko Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sumut memiliki 14 jenis potensi kejadian bencana. Cuaca ekstrem menjadi kejadian bencana yang paling dominan sepanjang 2026, disusul tanah longsor, banjir, serta karhutla.

"Hasil rekapitulasi kami dari 1 Januari hingga 4 September 2026, bencana yang paling sering terjadi adalah cuaca ekstrem sebanyak 127 kali, termasuk angin puting beliung dan kekeringan. Kemudian diikuti tanah longsor 86 kali, banjir 73 kali, dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 46 kali," ujar Tuahta.

Halaman Selanjutnya
img_title