Positioning sebagai Strategi Politik

Ilustrasi Pemilu 2024.
Sumber :
  • Istimewa/VIVA Medan

Politik hari ini masih jauh dari orientasi terhadap kebutuhan publik sehingga suasana pemilu harus masuk ke dalam benak pemilih dengan persaingan yang mengarah pada semua dan memiliki kecenderungan politik yang pragmatis dan transaksional. Persaingan politik menjadi sesuatu yang dibutuhkan dalam sebuah alam demokrasi sehingga menuntut siapa pun yang akan bertarung harus lebih kreatif dan membawa inovasi dalam mencapai kemajuan.

img_title Kuliah Umum di PKKMB UMSU 2026, Pesan Kapolri : Kuasai Teknologi Secara Bijak dan Produktif Serta Berani Berkarya

Ruang pemilu yang kompleks seharusnya melembagakan segmentasi pemilih menjadi programatik dan penuh dengan kebaruan. Situasi politik hari ini justru membutuhkan sebuah konsep yang disebut sebagai konsep kelangkaan (scarcity) sehingga publik dengan sangat mudah dapat mencari dan menemukan pembeda antara satu pihak dengan pihak yang lain baik dalam branding maupun produk politik yang dibawa.

Untuk menghadirkan pembeda tersebut maka para peserta pemilu, baik politisi maupun partai politik, harus menentukan positioning politiknya sehingga mampu menempatkan produk politiknya sebagai tawaran perubahan dan perbaikan dari kebutuhan yang publik inginkan. Maka program politik yang dibawa dalam ruang pemilu harus menempatkan rakyat atau publik sebagai sebuah subjek, tidak lagi objek politik sebab antara keinginan masyarakat dan public-policy harus terjadi arus dua arah.

img_title PKKMB UMSU 2026 Dihadiri Ketum PP Muhammadiyah Hingga Kapolri, Rektor Akrim: Ini Momen Istimewa

Positioning politik adalah aktifitas politik dari partai dalam menanamkan kesan di benak para pemilih untuk membedakan produk politik satu partai dengan partai lain. Membedakan produk politik diantara para kontestan menjadi hal penting, sebab kesamaan produk politik akan mempersulit pemilih dalam mengidentifikasi partai politik, akibatnya membuat para pemilih merasa tidak-adabedanya antara satu kontestan dengan kontestan yang lain, karena memilih satu partai diantara partai lain tidak menghasilkan dampak berbeda kepada masyarakat pasca menentukan pilihan di bilik suara.

Fungsi positioning dalam kontestasi politik menjadi salah satu faktor menentukan kemenangan, hasil riset di beberapa negara demokrasi maju menunjukan, bahwa membedakan produk politik dapat mempengaruhi pilihan para pemilih sekitar 66%-70%. Tentunya membedakan karakter atau produk politik tidak sesederhana kita bayangkan, diferensiasi politik itu tidak asal berbeda antara satu partai dengan partai lain.

img_title Dihadapan 6.027 Maba, Bobby Nasution : Kami akan Luncurkan Beasiswa Kepada Mahasiswa UMSU

Di perlukan strategi khusus untuk menciptakan kesan mendalam di benak para pemilih. Menurut Adman Nursal (2004) setidaknya terdapat lima poin penting dalam membedakan produk politik dari partai. Pertama, perbedaan memiliki arti penting serta bernilai, tidak sekedar berbeda warna atau simbol partai.

Sebagai contoh warna serta simbol Partai Demokrat dan Partai Republik di negara Amerika Serikat dipastikan berbeda, tetapi publik di negara itu mampu mengidentifikasi perbedaan di antara keduanya tidak dilihat dari beda warna dan simbol, tetapi perbedaan dilihat dari asas partai, Partai Demokrat berideologi liberal progresif dan Partai Republik menganut liberal konservatif. Dari perbedaan ideologi partai ini memunculkan dikotomi program politik berbeda di antara keduanya.

Kedua, perbedaan dalam kontestasi politik memiliki makna istimewa, misalnya di antara belasan partai yang menjadikan nasionalisme sebagai asas terdapat satu perbedaan signifikan diantara mereka, bisa dilihat dari sistem pengkaderan atau aktualisasi nilai nasionalisme dalam praksis berpolitik sehari-hari para anggotanya. Artinya meski memiliki kecenderungan ideologi sama terdapat perbedaan dalam hal tertentu.

Ketiga, perbedaan ditonjolkan bersifat superior, mempunyai satu produk politik unggul dibandingkan partai lain, memiliki satu karakteristik politik sangat khas. Misal ketika kampanye Barack Obama (Partai Demokrat) menjanjian pemberian subsidi berupa dana pensiun bagi masyarakat Amerika Serikat ketika purna tugas sebagai karyawan, janji politik tersebut berbeda dengan rival politiknya dari Partai Republik (McCain) lebih mendukung ekonomi pasar terbuka.

Keempat, produk politik itu mudah dikomunikasikan kepada pemilih, meski partai memiliki program politik (progresif) kalau tidak dapat dikomunikasikan kepada pemilih, bisa dipastikan partai mengalami defisit dukungan elektoral. Karena sebagus apapun program politik bila tidak sampai kepada masyarakat, tidak memiliki arti apa-apa bagi mereka, jadi kontestan harus mempersiapkan media yang cepat serta tepat agar program politik tersebut mampu tersampaikan secara efektif merata ke seluruh lapisan masyarakat.

Kelima, tidak mudah ditiru kontestan lain, ketika Jokowi menjadi Wali Kota di Solo rajin melakukan aksi blusukan atau terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat, blusukan ala Jokowi menjadi branding politik melekat pada dirinya, meski kemudian banyak elit politisi melakukan hal sama, tetap di kognitif publik Indonesia blusukan menjadi citra kuat pada Jokowi sampai sekarang.

Tentunya dalam membangun positioning politik tidak bisa dibuat dalam waktu singkat seperti mingguan atau bulanan, tetapi dibangun dalam rentang tahunan cukup lama, serta terdapat konsistensi dari partai politik dalam menanamkan kesan atas perbedaan tersebut. Pelaksanaan Pemilu 2024 di Indonesia semakin mendekat, selain kehadiran partai-partai lama diprediksi peserta pemilu ke enam di era reformasi akan turut diikuti partai-partai baru.

Tentunya kita sebagai pemilih harus cermat dalam menentukan pilihan di bilik suara nanti, sebab masa depan bangsa sangat dipengaruhi pilihan politik kita. Kita mengharapkan iklim kontestasi politik lebih berkualitas dari pemilu-pemilu sebelumnya, terjadi pertarungan pemikiran serta gagasan di ruang-ruang publik, setiap program politik ditawarkan partai dapat dikritisi secara baik oleh masyarakat, sehingga kualitas kita dalam berdemokrasi mengalami kenaikan level. Tidak lagi disibukan narasi politik identitas yang bisa menggerus nilai-nilai kebangsaan kita.

Harapannya agar partai politik peserta Pemilu 2024 bisa merumuskan program politik yang memiliki identitas pembeda sangat jelas dan tegas ketika masa kampanye, sehingga sebagai pemilih kita disajikan ragam pilihan, akan membuat bangsa menjadi semakin maju dalam berdemokrasi ke depan nanti.

Artikel ini sebagai bahan tugas kuliah yang dibimbing oleh : Prof.Dr.Elisabet Siahaan, SE, M.Ec

Biodata Penulis

Hardiansyah

Mahasiswa Magister Ilmu Manajemen Universitas Sumatera Utara

Mahasiswa Magister Ilmu Manajemen USU, Hardiansyah.

Photo :
  • Istimewa/VIVA Medan