Pengesahan Ranperda KTR Ditunda, Bapemperda dan Pansus DPRD Medan Tinjau Ulang 2 Pasal Polemik
- Dok DPRD Medan
Medan, VIVA Medan - Panitia Khusus Rancangan Perubahan Peraturan Daerah Kawasan Tanpa Rokok (Pansus Ranperda KTR) Bapemperda DPRD Medan sepakat menunda sidang paripurna pengesahan yang awalnya dijadwalkan digelar 29 Desember 2025. Penundaan ini tidak terlepas dari pasal-pasal polemik yang menuai penolakan besar dari masyarakat.
Ada dua pasal yang rencananya akan diubah atau dihapus dalam Ranperda KTR setelah mendengar masukan dari asosiasi pedagang dan asosiasi pengusaha periklanan. Yakni pasal larangan berjualan rokok radius 200 meter dari satuan pendidikan dan taman bermain anak serta pasal tentang larangan iklan rokok radius 500 meter dari satuan pendidikan dan taman bermain anak.
Pada rapat, Senin (22/12/2025) rencananya akan dilakukan penghapusan kedua pasal tersebut. Tetapi sayangnya draft akhir Perda sudah dikirim ke Pemprov Sumut dan sudah mendapatkan nomor registrasi untuk dibahas pada Sidang Paripurna pekan depan. Sehingga perubahan tidak lagi bisa dilakukan.
“Saya akui, dua pasal ini berpolemik. Karena di daerah lain seperti DKI Jakarta juga tidak mencantumkan dua pasal ini. Takutnya kalau kita paksakan bisa jadi masalah. Jadi saya pikir jangan disahkan dulu. Kita pikirkan lah, di tengah efisiensi ini dan PAD yang turun,” ujar Ketua Bapemperda DPRD Medan, Afif Abdillah, Senin 22 Desember 2025.
Menurut Afif, meski Propemperda 2026 sudah diketok palu, ia akan berkonsultasi pada pimpinan DPRD Medan untuk merevisinya dan memasukkan Perda KTR pada Propemperda 2026. Selain itu, Perda Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) yang tidak sempat dimasukkan ke dalam Propemperda 2026 juga akan diusulkan dalam revisi tersebut.
“Kita harus revisi Propemperda, bisa saja itu dilakukan. Kita akan sampaikan nanti pada pimpinan bahwa ada dua pasal yang harus direvisi. Selain itu PBG juga belum masuk Propemperda 2026. Bisa kita tambahkan untuk diselesaikan saja,” jelas Afif.
Politisi Nasdem ini berkomitmen menghapus dua pasal dalam Ranperda KTR Medan karena berpotensi menimbulkan masalah. Ia tidak mau Perda KTR yang lahir nantinya malah menimbulkan gejolak di masyarakat. Ia berharap penghapusan dua pasal tersebut bisa berdampak pada pedagang dan pengusaha periklanan di Kota Medan.