DLHK Sumut-Yayasan PETAI Tekan Emisi Lewat Budidaya Lebah Madu

Budidaya lebah madu.
Sumber :
  • Ist/VIVA Medan

VIVA Medan –Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara (DLHK Sumut) bersama Yayasan Pesona Tropis Alam Indonesia (PETAI) menegaskan komitmen melalui penguatan kapasitas Kelompok Tani Hutan (KTH) dalam pengelolaan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang berkelanjutan.

img_title Keren! Jadi Wakil Sumut, Mahasiswa UMSU Sabet Dua Penghargaan Bergengsi di Abdidaya Ormawa 2026

Hal tersebut, sebagai salah satu upaya menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) diIndonesia hingga ke tingkat tapak. 2 sekolah lapang budidaya lebah madu menjadi langkah konkret terbaru program ini, yang didukung pendanaan Result Based Payment (RBP) Green Climate Fund (GCF) Output 2. 

Pendanaan tersebut menjadi pengungkit partisipasi masyarakat dalam menjaga hutan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi lokal.

img_title Bobby Nasution Luncurkan 'Teras Pelajar Sumut Berkah', Beri Ruang Kreativitas dan Bakat di Luar Sekolah

Pelatihan pertama digelar 23–24 Juni 2025 untuk KTH Rimba Nami Lestari di Desa Parbubu II, Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. Sebanyak 25 peserta (18 laki-laki dan 7 perempuan) antusias mengikuti materi budidaya lebah Apis cerana, teknik manajemen koloni, serta praktik pembuatan kotak stup yang dipandu oleh Slamet Riyadi, S.Pd. 

Dalam praktiknya, peserta dibagi menjadi 3 kelompok dan berhasil memproduksi 10 kotak stup. 

img_title Perkuat Mobilitas Masyarakat di Sumut, KAI Bandara Catat Layani 41.296 Penumpang Relasi Medan–Lubuk Pakam

Hari kedua, difokuskan pada teknik pemberian pakan, perawatan, hingga panen dan pascapanen madu secara langsung di lapangan. Pelatihan serupa dilaksanakan untuk KTH Gorbus Nauli di DesaSait Buttu, Kecamatan Pamatang Sidamanik, Kabupaten Simalungun pada 25–27 Juni 2025. 

Sebanyak 20 peserta (13 laki-laki dan 7 perempuan) terlibat aktif, termasuk petani muda dan perempuan yang mendokumentasikan setiap proses pelatihan melalui catatan dan ponsel pribadi. 

Hasil praktik menjadi kebanggaan bersama sekaligus menjadi modal awal pengembangan usaha madu kelompok.

Direktur Eksekutif Yayasan PETAI, Masrizal Saraan menjelaskan, program sekolah lapang ini bukan hanya menyiapkan masyarakat dalam meningkatkan pendapatan melalui produk HHBK, tetapi juga bagian dari strategi menekan laju deforestasi yang menjadi sumber signifikan emisi GRK di Indonesia.

“Ketika masyarakat memiliki pilihan ekonomi yang layak dan berkelanjutan, ketergantungan mereka pada aktivitas ekstraktif yang merusak hutan akan menurun. Ini sejalan dengan komitmen FOLU Net Sink 2030 Indonesia untuk menyeimbangkan emisi dan serapan karbon,” ucap Masrizal, Minggu 29 Juni 2025.

DLHK Sumut bersama PETAI menargetkan perluasan sekolah lapang di berbagai kabupaten/kota dengan topik budidaya madu, pembibitan tanaman hutan, pertanian ramah lingkungan, serta penguatan kelembagaan KTH. 

Halaman Selanjutnya
img_title