Jejak Nyata Ditorekan Tim Pengabdian FK USU di Tano Niha Nias Utara : Memberikan Pelayanan Kesehatan Kepada Masyarakat
- dok USU
Di RSUD dr. M. Thomsen Gunungsitoli, jumlah kasus yang ditangani pada bagian obgyn tergolong tinggi. Berdasarkan pernyataan dr Trinidia, dalam satu bulan rumah sakit ini dapat menangani sekitar 35 operasi sesar (Sectio Caesarea) dan tujuh hingga delapan tindakan histerektomi atau pengangkatan rahim.
"Padahal, dokter spesialis obstetri dan ginekologi yang bertugas hanya dua orang, dengan salah satunya yang telah mendekati masa pensiun. Kondisi tersebut tentu membuat kebutuhan akan tenaga dokter spesialis menjadi semakin mendesak," sebutnya.
Meski demikian, tantangan terbesar justru bukan dari banyaknya pasien yang harus ditangani, melainkan keterbatasan sistem penunjang pelayanan kesehatan. Di mana salah satu persoalan paling krusial adalah ketersediaan darah.
"Operasi obstetri itu sangat bergantung pada darah. Masalahnya, pelayanan bank darah tidak tersedia selama 24 jam. Setelah pukul 22.00 malam bank darah sudah tutup, padahal kasus gawat darurat bisa datang kapan saja. Sementara di RS Tafaeri Nias Utara, teman saya justru mengalami tantangan yang lebih besar, karena di sana tidak ada bank darah. Sehingga tindakan medis yang dilakukan harus benar-benar dipertimbangkan. Maka pasien dari Nias Utara sering harus dikirim ke Gunungsitoli karena ketiadaan darah," imbuh dr Trinidia.
Kampus USU.
- Istimewa/VIVA Medan
Dalam kondisi normal, keterbatasan tersebut mungkin tidak terlalu terasa. Namun bagi pasien yang mengalami perdarahan hebat saat persalinan, setiap menit menjadi penentu keselamatan jiwa. Keterbatasan juga dirasakan pada layanan penunjang diagnostik. Untuk pemeriksaan patologi anatomi, misalnya, rumah sakit belum memiliki dokter spesialis sehingga setiap sampel biopsi harus dikirim ke Medan. Akibatnya, proses penegakan diagnosis penyakit, termasuk dugaan kanker, membutuhkan waktu lebih lama. Persoalan berikutnya muncul ketika pasien membutuhkan penanganan subspesialis yang belum tersedia di Pulau Nias.
Sebagai rumah sakit rujukan utama di kepulauan tersebut, RSUD dr. M. Thomsen kerap menghadapi dilema. Di satu sisi pasien membutuhkan tindakan medis lanjutan, namun di sisi lain fasilitas maupun tenaga subspesialis belum tersedia. Pilihan akhirnya adalah merujuk pasien ke Medan.
Namun bagi masyarakat kepulauan, proses rujukan bukanlah perkara sederhana. Selain biaya transportasi yang besar, pasien juga harus menempuh perjalanan laut atau udara dengan berbagai persyaratan administrasi. Bahkan, untuk menggunakan kapal atau pesawat, keluarga pasien masih harus mengurus surat keterangan yang menyatakan penyedia transportasi tidak bertanggung jawab apabila terjadi kondisi darurat selama perjalanan. Proses administrasi tersebut dapat memakan waktu dua hingga tiga hari.