Akibat Bencana Alam di Sumut, Hasil Studi: Diduga Tewaskan Sekitar 10% Populasi Orangutan Tapanuli

Ilustrasi Orangutan.
Sumber :
  • AI Meta

"Jika peristiwa seperti ini terjadi dua atau tiga kali dalam seratus tahun, spesies ini tidak akan mampu pulih dengan baik," katanya.

img_title Gunungsitoli Tembus Target UHC, Wagub Sumut Ingatkan Jangan Cepat Puas

Ia juga menekankan pentingnya membangun koridor habitat, memulihkan kawasan hutan dataran rendah, serta meningkatkan peluang perpindahan individu antar-populasi untuk menjaga keberagaman genetik.

Para narasumber sepakat bahwa penyelamatan Orangutan Tapanuli membutuhkan kerja sama lintas sektor. Meijaard menilai konservasi spesies ini tidak cukup hanya dengan menghentikan perburuan dan deforestasi.

img_title Makin Diminati, KAI Bandara Angkut 2,5 Juta Penumpang di Sumut Selama Januari–Juli 2026

Menurutnya, diperlukan strategi yang mampu meningkatkan ketahanan habitat terhadap dampak perubahan iklim, termasuk memperluas kawasan yang dapat dihuni orangutan dan memulihkan area yang telah terfragmentasi.

"Kita membutuhkan rencana aksi yang melibatkan pemerintah, perusahaan, lembaga konservasi, akademisi, dan masyarakat. Jika ada kemauan politik dan dukungan pendanaan, saya yakin Orangutan Tapanuli masih bisa diselamatkan," ujarnya.

img_title Pemprov Sumut Dorong Penguatan Kolaborasi Antarprovinsi se-Sumatera untuk Percepat Pertumbuhan Kawasan

Wich juga menyoroti pentingnya keterlibatan seluruh pihak, termasuk perusahaan yang beroperasi di kawasan Batang Toru, dalam penyusunan solusi konservasi jangka panjang.

Sementara itu, Panut menilai upaya rehabilitasi yang berjalan saat ini masih bersifat sporadis dan belum didukung perencanaan lanskap yang terintegrasi.

"Yang dibutuhkan bukan kegiatan seremonial sesaat, melainkan restorasi berbasis lanskap dengan perencanaan jangka panjang yang mempertimbangkan keseluruhan ekosistem Batang Toru," katanya.

Ilustrasi Orangutan.

Photo :
  • AI Meta

Selain mengancam Orangutan Tapanuli, longsor dan banjir besar tersebut juga menimbulkan dampak serius bagi masyarakat setempat.

Panut mengatakan sejumlah desa mengalami kerusakan parah, akses jalan terputus, dan ratusan keluarga masih tinggal di tempat penampungan sementara. Banyak warga mengalami trauma akibat bencana yang disebut sebagai salah satu yang terbesar yang pernah terjadi di kawasan tersebut.

"Sebagian masyarakat kehilangan rumah, mata pencaharian, dan akses ke desa mereka. Banyak keluarga masih tinggal di hunian sementara dan hidup dalam ketidakpastian," ujarnya.

Serge Wich menambahkan bahwa penguatan ketahanan bentang alam dapat memberikan manfaat ganda, yaitu melindungi manusia sekaligus menjaga habitat satwa liar.

Menurutnya, restorasi kawasan riparian, pengelolaan lahan yang lebih baik, dan perlindungan hutan dapat membantu mengurangi dampak bencana di masa depan.

Halaman Selanjutnya
img_title