Akibat Bencana Alam di Sumut, Hasil Studi: Diduga Tewaskan Sekitar 10% Populasi Orangutan Tapanuli
- AI Meta
Tapanuli Selatan,VIVA Medan–Hujan ekstrem yang memicu banjir dan longsor besar di kawasan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara, pada akhir November 2025, diduga telah menyebabkan hilangnya sekitar 10 persen populasi Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), salah satu spesies kera besar paling langka di dunia.
Temuan tersebut disampaikan dalam studi yang dipimpin Erik Meijaard, penulis utama penelitian sekaligus Managing Director Borneo Futures, dalam Press Briefing: Tapanuli Orangutans/Cyclone Senyar yang digelar secara daring pada Selasa malam, 9 Juni 2026.
Meijaard menjelaskan penelitian bermula dari pengamatan terhadap banjir dan hujan lebat yang melanda Sumatra Utara pada November 2025. Saat menelaah citra satelit bersama sejumlah peneliti, mereka menemukan pola yang tidak biasa di kawasan hutan primer habitat Orangutan Tapanuli.
"Kami awalnya mengira ada kesalahan data karena terlihat area yang tampak seperti genangan di dalam hutan primer. Setelah memperoleh citra yang lebih rinci, kami menyadari bahwa area tersebut sebenarnya merupakan lahan terbuka akibat longsor besar," ujarnya.
dilakukan tim Borneo Futures menunjukkan lebih dari 8.000 hektare kawasan hutan terdampak longsor. Sebagian besar area yang rusak merupakan hutan primer yang selama ini menjadi habitat utama Orangutan Tapanuli.
Berdasarkan hasil penelitian, sekitar 58 individu Orangutan Tapanuli diperkirakan menjadi korban akibat longsor yang dipicu hujan ekstrem. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 10–11 persen populasi di kawasan terdampak atau sekitar 7 persen dari total populasi spesies yang diperkirakan hanya berjumlah sekitar 800 individu.
"Orangutan bereproduksi sangat lambat, hanya sekitar satu anak setiap tujuh tahun. Kehilangan sebesar ini jauh melampaui tingkat kematian tahunan yang dapat ditoleransi spesies tersebut," kata Meijaard.
Menurutnya, kehilangan dalam jumlah besar tersebut menjadi ancaman serius bagi spesies yang sebelumnya sudah menghadapi tekanan akibat perburuan, fragmentasi habitat, dan hilangnya kawasan hutan.
Ilustrasi Orangutan.
- AI Meta
Founder Orangutan Information Centre (OIC), Panut Hadisiswoyo, mengatakan longsor terutama terjadi di Blok Barat Batang Toru yang merupakan benteng utama populasi Orangutan Tapanuli.
"Blok Barat menampung lebih dari 500 orangutan. Masa depan spesies ini sangat bergantung pada kawasan tersebut. Melihat kerusakan habitat yang terjadi hanya dalam satu hari merupakan pengalaman yang sangat menyedihkan," ujarnya.