Bobby Nasution Ungkap Dampak Dirasakan Korban Begal dari Trauma Sangat Luar Biasa Hingga Cacat
- Bagus Syahputra/VIVA Medan
Medan,VIVA Medan – Gubernur Sumut, Bobby Afif Nasution tidak setuju dengan pernyataan Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) RI,Natalius Pigai, yang menyebutkan tidak bolehbegalditembak di tempat.
Gubernur Sumatera Utara (Sumut), Muhammad Bobby Afif Nasution tidak setuju dengan pernyataan Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) RI, Natalius Pigai, yang menyebutkan tidak boleh begal ditembak di tempat.
"Masalah kriminalitas begal, mohon maaf pak Menteri HAM , malah menyampaikan seperti itu (tidak boleh begal ditembak di tempat). Ini begal-begalnya pada senang ," sebut Bobby Nasution dalam video yang diunggahnya di akun instagramnya dikutip medan.viva.co.id, Rabu siang, 3 Juni 2026.
Bobby Nasution menyampaikan pendapatnya terkait pernyataan Menteri HAM tersebut, saat menerima audiensi Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumut, Brigjenpol Tatar Nugroho, di Kantor Gubernur Sumut, Selasa 2 Juni 2026.
Selanjutnya, Bobby Nasution menilai pernyataan seperti ini, seharusnya disampaikan di internal Kementerian HAM saja, tidak disampaikan ke publik. Sehingga, ia kembali menilai pernyataan Natalius Pigai, membuat resah di tengah masyarakat dan ada yang diuntungkan dalam pernyataan tersebut.
“Ya minimal hal-hal, yang mungkin tidak sependapat 100 persen, dengan pak Menteri HAM, mau menyampaikan seperti itu disampaikan di internal saja ya. Sehingga tidak ada ya merasakan dimerdekakan pak, apa lagi dimerdekakan kegiatan kriminal ya seperti itu,” jelas Bobby Nasution.
Pernyataan Menteri HAM, bisa membuat aparat kepolisian tidak berani melakukan tindakan tegas terukur atau menembak di tempat , terhadap pelaku begal yang ditindak di kemudian hari.
"Pada saat yang sama bapak Kapolri, ini disampaikan gak masalah. Kalau disampaikan terbuka masyarakat, wah itu menjadi poin yang ada nilai-nilai tersendirinya," kata Bobby Nasution.
Bobby Nasution mengungkapkan bahwa dampak aksi kriminalitas jalanan atau begal ini, memberikan dampak buruk kepada korbannya. Selain kehilangan barang-barang berharga, korban mengalami trauma hingga bisa cacat.
"Hal-hal seperti itu, dampaknya seperti apa. Korbannya, kalau perempuan traumanya sangat luar biasa, yang kena laki-laki, ya mungkin dia sebagai Kepala keluarga, bisa saja cacat. Sehingga mengganggu perekonomian keluarga. Korbannya, anak-anak pasti sampai tua dampaknya psikologi masih ada," sebut Gubernur Sumut.