Kopi Marancar Godang Tapsel Didorong Jadi Produk dengan Targetkan Pasar Global
- Ist/VIVA Medan
Tapanuli Selatan, VIVA Medan – Peluang pasar kopi yang terus tumbuh di tingkat lokal hingga global membuka ruang besar bagi petani di Desa Marancar Godang, Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan ( Tapsel ). Berbagai pihak mulai dari (GJI), pelaku usaha seperti, hingga pemerintah desa, kini mendorong kawasan ini menjadi sentra kopi berbasis ekonomi hutan yang berkelanjutan.
CEO & Co-Founder Coffeenatics, Harris Hartanto Tan, menilai tren konsumsi kopi menunjukkan pertumbuhan yang konsisten. Pergeseran gaya hidup, terutama di kalangan anak muda, menjadi faktor utama meningkatnya permintaan kopi.
“Outlook kopi selalu positif. Konsumen, baik di dalam negeri maupun luar negeri, sudah mulai beralih ke kopi. Ini peluangnya besar,” ujarnya saat mengunjungi kebun petani di Marancar Godang, Kamis 16 April 2026.
Ia juga menyoroti pasar global, termasuk China, yang mulai mengalami peningkatan konsumsi kopi meski sebelumnya dikenal sebagai negara dengan budaya minum teh yang kuat. Kondisi ini dinilai membuka peluang ekspor yang semakin luas bagi kopi Indonesia.
Dalam konteks produksi, Harris menjelaskan bahwa jenis kopi Robusta berpotensi semakin dominan di masa depan. Hal ini dipengaruhi oleh perubahan iklim yang membuat suhu semakin panas, sehingga varietas arabika menjadi lebih sulit dibudidayakan.
“Arabika butuh suhu dingin, sementara kondisi sekarang makin panas. Robusta akan menjadi alternatif yang lebih kuat ke depan,” katanya.
Meski begitu, ia menilai kualitas kebun kopi petani di Marancar sudah cukup baik. Peningkatan masih diperlukan, terutama dalam aspek perawatan, konsistensi, serta penambahan pelindung pohon (shading).
“Kuncinya itu konsistensi. Jangan berhenti merawat hanya karena harga turun. Kopi itu tetap ada di pasaran,” tegasnya.
Di sisi hulu, petani masih menghadapi berbagai tantangan. Agus Parulan Siregar, anggota LPHD Permata Hijau, mengatakan saat ini pengembangan kopi di desanya masih berada pada tahap pembibitan. Ribuan bibit kopi tengah disediakan untuk mendukung perluasan lahan tanam.
“Saat ini kami masih fokus pada pembibitan dari bantuan yang ada. Sekitar 3.000 bibit sedang kami kelola,” ujarnya.
Namun, keterbatasan bibit dan akses pasar masih menjadi kendala utama. Fluktuasi harga dari tengkulak juga kerap mempengaruhi motivasi petani.“Harga dari toke tidak menyebutkan. Kami berharap ada pembeli yang lebih pasti,” tambahnya.