Pusat Adat Simardangiang, Simbol Hubungan Tak Terpisahkan: Adat dan Hutan

Pusat Adat Simardangiang Simbol Hubungan Tak Terpisahkan: Adat dan Hutan.
Sumber :
  • Ist/VIVA Medan

Tapanuli Utara , VIVA Medan - Di balik rimbunnya hutan Tapanuli Utara (Taput), sebuah bangunan berdiri gagah namun tetap menyatu dengan alam. Bangunan itu adalah Pusat Adat dan Sentra Kerajinan Masyarakat Hukum Adat (MHA) Simardangiang. 

img_title Dorong Keberlanjutan Industri, DPW APVI Sumbagut Deklarasi Komitmen Membangun Industri Vape Berintegritas

Bukan sekadar tumpukan kayu dan atap, gedung yang baru saja diresmikan oleh Bupati Tapanuli Utara, Dr. Jonius Taripar Parsaoran (JTP) Hutabarat, Kamis 12 Februari 2026, kini menjadi "Benteng Terakhir" budaya sekaligus laboratorium ekonomi bagi warga Simardangiang.

Bangunan yang didesain secara artistik ini mencerminkan filosofi Batak yang sangat kuat. Bahan alami yang digunakan tidak hanya memberikan kenyamanan visual, tetapi juga menegaskan pesan bahwa masyarakat adat Simardangiang hidup selaras dengan alam.

img_title Haornas ke-43, Bobby Nasution: Juara Lahir dari Budaya, Ekosistem Olahraga Sumut Harus Dibangun

Jika selama ini kemenyan hanya dikenal sebagai komoditas mentah yang dijual dengan harga standar, kehadiran Sentra Kerajinan ini mengubah segalanya. Di sini, "Emas Hitam" dari hutan Tapanuli tidak lagi hanya dikirim keluar daerah dalam bentuk getah beku.

Bupati JTP Hutabarat secara khusus meninjau alat penyulingan kemenyan di lokasi tersebut. Mesin ini menjadi simbol hilirisasi, di mana kemenyan mulai diolah menjadi bahan baku parfum berkualitas tinggi.

img_title Pembukaan MTQ Nasional XXXI di Semarang, Wagub Surya: Jaga Stamina dan Bawa Gelar Juara untuk Sumut

“Melalui Masyarakat Hukum Adat (MHA), kemenyan harus berdampak nyata bagi kesejahteraan. Kita tidak ingin kemenyan hilang ditelan zaman. Kita ingin kemenyan naik kelas dan bersanding dengan Ulos sebagai ikon kebanggaan kita,” tegas Bupati JTP Hutabarat.

Langkah ini dipandang sebagai strategi ekonomi yang sangat cerdas. Dengan dukungan pemasaran dari Dekranasda, produk turunan kemenyan diharapkan mampu menembus industri kosmetik dan wewangian global, memberikan nilai tambah yang berkali-kali lipat bagi petani lokal.

Sisi lain yang menarik dari Pusat Adat ini adalah fungsinya sebagai ruang pemulihan sosial. Plt. Ketua MHA Simardangiang, yang juga Kepala Desa Simardangiang, Tampan Sitompul, menuturkan sebuah kenyataan pahit: sekitar 80 persen lahan persawahan merusak masyarakat akibat bencana alam pada akhir 2025 lalu.

“Kami berharap pusat adat yang telah dibangun dapat menjadi ruang pelestarian nilai-nilai adat bagi generasi penerus,” ucapnya.

Dalam kondisi terjepit secara ekonomi, masyarakat kembali beralih ke hutan adat. Pusat adat ini pun menjadi tempat mereka merumuskan strategi bertahan hidup. Kemenyan, yang dulunya mungkin dianggap sebagai penghasilan sampingan, kini menjadi pilar utama ekonomi warga. Bangunan ini menjadi saksi bisu bagaimana adat menyelamatkan perut rakyat di saat alam sedang tidak bersahabat.

Halaman Selanjutnya
img_title