Gajah Betina Penghuni Rahmat Zoo & Park Mati, dengan Catatan Penyakit Komplikasi Hingga Menurunnya Nafsu Makan

Gajah Sumatra Rahmat Zoo & Park Mati.
Sumber :
  • Ist/VIVA Medan

Serdang Bedagai, VIVA Medan – Kabar duka dari Rahmat Zoo & Park, dimana salah satu penghuninya Gajah Sumatra atau Elephas maximus sumatrensis dilaporkan mati pada Sabtu 7 Februari 2026. Gajah mati tersebut, berjenis kelamin betina, diperkirakan berusia sekitar 50 tahun. ,

img_title Angkutan Barang KAI Sumut Tumbuh Positif 16 Persen, Tembus 550 Ribu Ton hingga Agustus 2026

Manajemen Rahmat Zoo & Park, Putra Ario, menjelaskan bahwa gajah bernama Ratna itu, mengalami penyakit komplikasi pada organ vital lainnya hingga gangguan fungsi ginjal dan hati.

Putra mengatakan pihaknya sudah melakukan perawatan medis terhadap Ratna dibantu oleh tim medis dan dokter hewan untuk menyembuhkan penyakitnya. Lalu, hasil pemeriksaan klinis, uji laboratorium, serta bedah bangkai (nekropsi), penyebab utama kematian adalah gagal fungsi organ. 

img_title Permintaan Ayam di Sumut Meningkat Gara-Gara MBG, KPPU Ingatkan Petingnya Keseimbangan Pasokan

“Berdasarkan evaluasi klinis menyeluruh, hasil laboratorium, serta nekropsi, penyebab utama kematian Ratna adalah gangguan fungsi ginjal dan hati yang disertai gangguan pada organ vital lain seperti jantung dan saluran pencernaan,” ungkap Putra dalam keterangan tertulis, Rabu 11 Februari 2026.

Putra mengatakan pihaknya memberikan penanganan medis khusus, untuk menyembuhkan penyakit gajah tersebut. Karena, hasil pemeriksaan terdapat luka menahun berupa fistula pada telapak kaki depan kiri membuat Ratna memerlukan penanganan khusus.

img_title Tercatat 47 Kali Karhutla di Sumut, dengan Area Terbakar Capai 273,87 Hektar

Kemudian, dalam proses perawatan, tindakan medis dilakukan melalui pembiusan karena Ratna tidak dapat dikendalikan secara penuh seperti gajah jinak lainnya. 

"Pada 30 Oktober 2025, tim mendeteksi adanya udema di bagian perut Ratna. Penanganan awal berupa pemberian vitamin dan terapi suportif dilakukan pada 12 November 2025 dan sempat menunjukkan perbaikan," jelas Putra. 

Putra mengungkapkan tim medis terus melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap kondisi Ratna. Tepatnya, pada 1 Januari 2026 terjadi peradangan kembali pada luka fistula yang kemudian disertai pengelupasan kulit pada 11 Januari 2026. Rahmat Zoo & Park selanjutnya merekomendasikan tindakan medis lanjutan. 

"Dalam penanganannya kami bekerja sama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatra Utara serta dokter hewan eksternal," kata Putra. 

Membuat Ratna bertambah parah mengalami penurunan nafsu makan dan minum. Pemeriksaan darah berikutnya mengindikasikan gangguan fungsi hati. Sehingga memberikan dampak buruk bagi kesehatan gajah betina itu.

Putra menjelaskan gangguan ginjal pada Ratna diduga bersifat multifaktorial, dipengaruhi kondisi fisik awal yang kurang baik, faktor usia lanjut, serta proses adaptasi terhadap lingkungan baru. 

Halaman Selanjutnya
img_title