Hingga Juli 2025 Tercatat 1.191 Kasus, 12 Daerah di Sumut Berstatus KLB Campak
- dok Dinkes Sumut
VIVA Medan –Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumut mencatat dari Januari hingga 31 Juli 2025, terdapat 1.191 kasus suspek campak . Dari jumlah itu, 362 kasus dinyatakan positif campak dan 10 kasus lainnya positif rubella .
Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumut , Novita Saragih, kepada wartawan, Selasa 5 Agustus 2025. Angka campak tersebut, diprediksi akan terus meningkat.
Oleh karena itu, Novita Saragih mengungkapkan bahwa Dinkes Sumut menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak terhadap 12 Kabupaten/Kota di Sumut. Sehingga perlu penanganan yang serius dan intensif.
Ia mengatakan Kota Medan mencatat kasus terbanyak sebanyak 159 kasus, disusul Deli Serdang (101 kasus), dan Tebing Tinggi (16 kasus).
“Daerah lainnya meliputi Tapanuli Selatan, Dairi, Padang Lawas, Tapanuli Tengah, Samosir, Padang Lawas Utara, Mandailing Natal, Binjai, dan Pematang Siantar,” ucap Novita.
Novita mengatakan pihak Dinkes Sumut sudah menyiapkan sejumlah langkah, untuk mencegah terjadinya kasus campak tersebut, Dinkes Sumut melakukan sejumlah langkah penanggulangan. Mulai dari penyelidikan epidemiologi (PE), pelacakan erat, penemuan kasus tambahan di sekitar penderita, hingga koordinasi lintas sektor dengan Dinkes kabupaten/kota, sekolah, dan tokoh masyarakat.
“Strategi juga kami lakukan melalui survei cepat komunitas, kajian epidemiologi, dan penyusunan mikroplanning untuk pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI),” jelas Novita.
Namun cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) di Sumut masih rendah. Hingga akhir Juli, baru mencapai 38,66 persen dari target nasional 58 persen. Meski begitu, pencapaian tersebut menempatkan Sumut di peringkat ke-5 nasional.
Hasil penelusuran epidemiologi juga menunjukkan bahwa 56 persen kasus campak terjadi pada anak-anak yang belum pernah menerima imunisasi MR.
“Meski anak yang sudah divaksin tetap bisa tertular, gejalanya biasanya lebih ringan. Ini karena efektivitas vaksin tidak selalu 100 persen, tergantung paparan virus dan daya tahan tubuh,” jelas Novita.
Ia menambahkan, rendahnya imunisasi juga mempengaruhi minimnya informasi, kesadaran masyarakat, serta maraknya hoaks soal vaksin.
Dinkes Sumut kini menggalakkan program jemput bola melalui Imunisasi Kejar, menyasar anak-anak yang belum mendapat vaksin sesuai jadwal. Selain itu, Pekan Imunisasi Nasional (PENARI) akan digelar pada 4–9 Agustus 2025 secara serentak.