Kepala BGN Ungkap Penyebab Keracunan MBG Dialami Ratusan Pelajar di Kabupaten Karo
- Yeni Lestari/VIVA
Medan, VIVA Medan–Hasil investigasi sementara terkait dengan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG), yang dialami ratusan pelajar, di Kabupaten Karo, Sumatera Utara (Sumut), pada Kamis 13 Agustus 2026. Diduga dipicu bahan baku menu makanan berupa ikan.
Hal itu, diungkapkan oleh Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, usai menjenguk seorang korban keracunan MBG yang masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum (RSU) Haji Medan, Minggu 16 Agustus 2026.
"Itu kalau sudah kami coba cek investigasi sementara. Jadi kelalaian ada pada perolahan," ungkap Sudaryono kepada wartawan.
Sudaryono menjelaskan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mendistribusikan atau mengelola MBG itu, diduga ada indikasi kelalaian pada bahan baku ikan, yang tidak dimasukkan ke dalam wadah pendingin atau freezer.
"Jadi bahan baku ikan itu sebagian besar dimasukkan ke freezer. Ada sekitar 300 atau 200 atau 300 ekor yang tidak masuk ke freezer itu kemudian ditaruh di suhu ruangan dalam kurun waktu 12 sampai lebih dari 12 jam," jelas Sudaryono.
Sudaryono mengungkapkan bahwa ikan basah yang tidak masuk ke dalam freezer lalu dimasak menjadi menu MBG. Sehingga terjadi keracunan dialami ratusan pelajar di Kabupaten Karo.
"Ya kok ikan basah kau taruh disitu kan mohon maaf lah ya. Itu suatu kebodohan menurut saya. Kelalaian kebodohan ya. Oh saya khilaf eh khilafnya itu menyangkut nyawa seseorang nih, hidup dan matinya seseorang loh," jelas Sudaryono.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono.
- Ist/VIVA Medan
Sudaryono menjelaskan dari kasus keracunan ini, dia mengingatkan seluruh SPPG di Indonesia untuk bekerja dengan ekstra hati-hati dan selalu melihat kualitas bahan baku yang akan dijadikan menu MBG. Hal itu, agar tidak terulang lagi terjadi keracunan kemudian hari.
"Jadi ini kita enggak cuma masalah kerja. Sopir itu kerja. Sopir bus itu kerja. Dia bertanggung jawab sama puluhan orang yang ada di belakangnya. Dia enggak boleh lalai. Kalau lalai bisa mati semua. Nah, ini sama ya, kepala dapur sama ya. Tidak boleh ada kelalaian, tidak boleh zero zero itu, enggak boleh lalai," tegas Sudaryono.