Banjir Besar di Sumut November 2025, Prof Jatna : Dipicu Anomali Cuaca

Ketua I-SER Universitas Indonesia, Prof. Jatna Supriatna.
Sumber :
  • Ist/VIVA Medan

Medan, VIVA MedanKetua Indonesian Science Education Research (I-SER) Universitas Indonesia, Prof. Jatna Supriatna, Ph.D., menilai rentetan banjir besar dan longsor yang melanda sejumlah wilayah Sumatera Utara dan sekitarnya tidak bisa dilihat hanya dari satu faktor.

img_title Menteri Ekonomi Malaysia Terpukau Potensi Sumut dan Puji Kepemimpinan Bobby Nasution

Menurut Vice Chair of the Section on Great Apes IUCN SSC itu, fenomena cuaca ekstrem menjadi salah satu pemicu utama bencana tersebut. Intensitas hujan yang sangat tinggi dalam waktu singkat membuat kawasan dengan topografi curam memiliki risiko lebih besar mengalami longsor dan membawa material dalam jumlah besar ke aliran sungai.

“Badai-badai yang besar itu kemungkinan terjadinya ratusan tahun sekali. Kalau tidak ada 200 tahun, baru terjadi lagi. Jadi memang ini musibah yang sangat besar,” ujar Prof. Jatna, dalam keterangan persnya, Rabu 12 Agustus 2026.

img_title Optimalkan Program UCJ, Disnaker Sumut Dorong Keterlibatan Pemerintah Kabupaten/Kota Hingga Perusahaan

Ia mengatakan, kondisi tersebut merupakan bagian dari anomali cuaca di tengah perubahan iklim. Fenomena ekstrem yang sebelumnya jarang terjadi kini semakin perlu diantisipasi karena dapat menjadi bagian dari apa yang disebut sebagai “normal baru”.

Prof. Jatna menjelaskan, karakteristik wilayah juga sangat menentukan tingkat kerusakan akibat banjir. Berdasarkan kajian yang dilakukan, kawasan di sekitar sungai menjadi salah satu wilayah paling kritis karena menjadi jalur utama aliran air sekaligus material yang terbawa dari kawasan hulu.

img_title Atasi Banjir Jalan Letda Sujono, Proyek Kolam Retensi 1,7 Km Dimulai Awal 2027

Ia menyebut kawasan hutan yang berada di daerah curam justru dapat mengalami dampak sangat berat ketika diguyur hujan ekstrem. Kondisi tanah di sejumlah kawasan tersebut juga berkaitan dengan material vulkanik lama, termasuk endapan yang berasal dari letusan Gunung Toba.

“Kalau kena air sampai 300 milimeter per hari, itu sama dengan satu curah hujan satu bulan dalam satu hari. Jadi hancurlah semua hutan itu,” katanya.

Menurut Prof. Jatna, kondisi berbeda dapat terlihat pada perkebunan kelapa sawit, karet maupun kawasan budidaya lainnya yang umumnya berada di wilayah lebih landai. Karena itu, tingkat kerusakan tidak dapat semata-mata dibandingkan berdasarkan tutupan lahannya tanpa melihat karakter topografi dan kondisi geologi masing-masing kawasan.

Ia menegaskan, sebagai ilmuwan dirinya tidak ingin masuk ke ranah politik maupun membuat kesimpulan tanpa dasar penelitian. Namun, menurutnya, fenomena banjir besar yang terjadi di sejumlah daerah menunjukkan adanya pola cuaca ekstrem yang perlu mendapat perhatian serius.

Halaman Selanjutnya
img_title