707 Pelajar dan Guru di Semarang Keracunan MBG, BGN Hentikan Sementara SPPG Karangturi
- Dok BGN
Semarang, VIVA Medan - Sebanyak 700 lebih murid dan guru di Semarang, Jawa Tengah serentak mendapat perawatan di rumah sakit usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG). Badan Gizi Nasional (BGN) pun mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangturi, Semarang, Jawa Tengah.
Keputusan tersebut diambil menyusul dugaan insiden keamanan pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyebabkan ratusan siswa dan guru mengalami gangguan kesehatan.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengatakan penghentian sementara operasional SPPG dilakukan sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap penyebab insiden tersebut. Saat ini, proses investigasi masih berlangsung sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sejumlah bahan makanan yang diduga menjadi pemicu.
Sudaryono, yang akrab disapa Mas Dar, juga turun langsung ke Semarang untuk memastikan kondisi para korban. Ia mengunjungi sejumlah rumah sakit di Kota Semarang, yakni RS Permata Medika, RS Bhakti Tamtama, dan RS Pantiwilasa Citarum pada Sabtu (1/8).
Menurutnya, mayoritas korban yang sebelumnya mengalami gejala seperti pusing, mual, muntah, hingga diare kini mulai menunjukkan kondisi yang membaik.
"Jadi, ini saya kunjungan ke Semarang merespons dari laporan adanya keracunan dari SMK Negeri 6 Semarang ya. Ada sekitar 700-an sekian yang dirawat, sebagian itu ada yang mual, ada yang terus-menerus buang air, dan seterusnya. Dari sekitar 700-an yang dirawat itu sebagian di rumah sakit, dan ada yang di puskesmas. Alhamdulillah, tadi sudah kita tengok kondisinya sudah baik," ujar Sudaryono, dikutip dari laman BGN, Senin 3 Agustus 2026.
Kepala BGN, Sudaryono.
- Yeni Lestari/VIVA
707 Murid dan Guru Keracunan Usai Santap MBG
Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kota Semarang, sebanyak 707 orang diduga mengalami insiden keamanan pangan setelah mengonsumsi makanan dari Program Makan Bergizi Gratis pada Jumat (31/7).
Jumlah tersebut terdiri dari:
- 693 siswa SMK Negeri 6 Semarang
- 14 guru SMK Negeri 6 Semarang
Para korban pelajar dan guru dilaporkan mengalami berbagai keluhan kesehatan setelah menyantap makanan yang disediakan dalam program tersebut. Sebagian menjalani perawatan di rumah sakit, sementara lainnya mendapatkan penanganan di puskesmas. Meski demikian, BGN menyampaikan bahwa kondisi para korban secara umum telah berangsur membaik setelah memperoleh penanganan medis.