Seruan 'Habisi' Donald Trump dan Netanyahu Mengema Saat Prosesi Salat Jenazah Ali Khamenei
- Istimewa/VIVA Medan
VIVA Medan - Seruan untuk membunuh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggema ditengah prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang digelar di Kompleks Grand Mosalla, Teheran.
Salat jenazah yang digelar pada Minggu waktu setempat itu berubah menjadi ajang unjuk kekuatan politik yang memadukan suasana duka dengan seruan balas dendam. Ratusan ribu warga memilih bermalam di kompleks masjid atau datang sebelum fajar agar dapat mengikuti salat yang dimulai pukul 08.00 waktu setempat.
Sambil mengibarkan bendera tiga warna Iran dan bendera merah yang melambangkan balas dendam, serta membawa foto Ali Khamenei yang berusia 86 tahun, massa meneriakkan slogan "Mati untuk Amerika" dan "Mati untuk Israel" sebagai bentuk tuntutan pembalasan.
Melasir laman NDTV, Senin 6 Juli 2026 poster dan coretan di dinding Grand Mosalla juga berisi ajakan untuk membunuh Donald Trump dan Benjamin Netanyahu. Seruan serupa terus menggema dari tengah kerumunan.
"Dari hari ini kain kafan adalah pakaian kami. Demi darahmu, kami bersumpah bahwa membunuh Trump adalah tanggung jawab kami. Kenapa manusia paling biadab di dunia itu masih hidup? Dunia sudah bukan lagi tempat yang aman bagi Trump. Mengapa kita tidak boleh membunuh orang yang telah membunuh imam kita? Jika kita tidak melakukannya, itu adalah sebuah kehinaan," ujar Mohammad Rasouli, seorang penyair yang memandu acara sebelum salat dimulai, melalui pengeras suara.
Sementara itu, seruan serupa juga disampaikan Duta Besar Iran untuk Armenia, Khalil Shirgholami di akun media sosial X miliknya. Dalam unggahannya Khalil menyebut bahwa mereka bisa membunuh manusia tetapi tidak bisa membunuh cita-cita masyarakat Iran.
"Kalian telah membunuh Ayatollah Khamenei, tetapi sesungguhnya yang kalian lakukan hanyalah memecahkan sebotol parfum yang kini keharumannya telah menyebar ke mana-mana. Kalian tidak akan pernah memahami hal itu karena kalian tidak memiliki peradaban, sejarah, maupun kehormatan," tulis dia.
Tak hanya dia, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Mohammed Bagher Zolghadr juga menyerukan tentang perlawanan rakyat Iran menyusul gugurnya pemimpin tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei.