Akhirnya Amerika Akui Kekuatan 'Nuklir' Baru Iran

Selat Hormuz.
Sumber :
  • Google Map

VIVA Medan - Amerika Serikat (AS) kekeuh tidak akan membuka kembali jalur air strategis dengan syarat yang ditetapkan oleh Teheran atau penundaan pembicaraan tentang program nuklir, yang diduga untuk militer. Hal ini usai Washington DC menuding Iran menggunakan Selat Hormuz sebagai 'senjata nuklir ekonomi'.

img_title Spanyol Juara Piala Dunia 2026 Usai Kalahkan Argentina 1-0, Gelar Kedua Sejak 2010

Hal tersebut diungkapkan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Sebagai informasi, Teheran telah mengajukan tawaran baru kepada Washington DC, yang mencakup rencana untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, sambil menunda negosiasi nuklir ke tahap selanjutnya.

"Jika yang mereka maksud dengan membuka Selat Hormuz, ya sudah, buka saja. Tapi syaratnya harus berkoordinasi dan mendapat izin mereka. Kalau tidak, mereka akan meledakkannya (kapal yang lewat). Saya jadinya skeptis dengan tawaran terbaru itu," kata dia, seperti dikutip dari situs Russia Today, Rabu, 29 April 2026.

img_title Tarif 20 Persen Lintasi Selat Hormuz Dibatalkan Trump, Diganti Negara Kawasan Teluk Investasi ke AS

Rubio berpendapat bahwa kendali de facto Iran atas Selat Hormuz akan menciptakan preseden berbahaya. Ia mengibaratkan Selat Hormuz setara dengan senjata nuklir ekonomi untuk menguasai dunia.

“Ini bukan Terusan Suez, bukan juga Terusan Panama. Ini adalah perairan internasional. Dan jika itu dinormalisasi, bukan hanya akan menciptakan preseden di Timur Tengah tapi seluruh dunia,” tegas Rubio.

img_title Rupiah Makin Drop ke Rp18.104 Meski Pasar Respon Positif, Ini Penyebabnya

Pesawat pengintai E-3 AWACS milik Amerika Serikat rusak parah terkena serangan rudal Iran.

Photo :
  • Facebook

Bukan itu saja. Ia juga menolak anggapan bahwa Iran memiliki tokoh moderat sejati di antara kepemimpinannya, dan secara meyakinkan mengatakan bahwa 'mereka semua garis keras'.

“Tidak ada keraguan dalam pikiran saya bahwa suatu saat di masa depan jika rezim ulama radikal ini tetap berkuasa di Iran, mereka akan memutuskan bahwa mereka menginginkan senjata nuklir,” kelakar Rubio.

Sebagai informasi, Washington DC mengonfirmasi bahwa Presiden Donald Trump telah meninjau tawaran Iran. Beberapa orang yang diberi informasi tentang diskusi tersebut mengatakan kepada New York Times bahwa presiden tidak puas, dan seorang pejabat AS menyarankan bahwa menerima tawaran itu dapat tampak seperti menolak kemenangan Trump, mengingat penegasannya yang berulang kali bahwa program nuklir Iran harus dibongkar.

Teheran menyatakan bahwa mereka tidak berupaya memperoleh senjata nuklir dan menolak tuntutan AS untuk menyerahkan persediaan uranium yang diperkaya tinggi dan membubarkan program nuklirnya.

Halaman Selanjutnya
img_title