Aktivis 98 Desak Prabowo Subianto Bentuk TGPF untuk Transparan dalam Mengungkap Penyerangan Aktivis KontraS Andrie Yunus
- Ist/VIVA Medan
Medan, VIVA Medan–Perhimpunan Pergerakan 98 mendesak Presiden RI Prabowo Subianto membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) berisikan orang-orang independen, untuk mengungkap dalang dibalik kasus teror penyiraman air keras terhadap aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus.
Hal itu, diungkapkan oleh Ketua Perhimpunan Pergerakan 98, Sahat Simatupang. Ia menjelaskan bahwa pentingnya pengusutan kekerasan yang dialami Andire Yunus dilakukan TGPF agar penyelidikan berlangsung transparan.
Sebab, Sahat mengatakan penyelidikan dan penyidikan untuk kepentingan hukum tengah dilakukan Kepolisian. Namun Markas Besar Tentara Nasional Indonesia melalui Pusat Polisi Militer atau Puspom TNI telah mengumumkan keterlibatan empat anggota TNI aktif dalam penyerangan Andrie Yunus.
"Untuk kepentingan hukum, polisi telah menyelidiki dan menyidik pelaku penyerangan Andrie Yunus. Namun saat yang sama Puspom TNI telah menahan empat orang anggota TNI yang diduga terlibat menyerang Andrie Yunus. Kami skeptis melihat penyelidikan yang dilakukan Polri dan penegakan hukum di internal TNI. Agar perkara ini nantinya terang benderang di peradilan, sebaiknya Presiden Prabowo membentuk TGPF," jelas Sahat Simatupang, Kamis 19 Maret 2026.
Sahat menilai penyerangan terhadap Andrie Yunus adalah kejahatan serius dan berimplikasi politik. Sebagai Presiden sekaligus sebagai Panglima Tertinggi TNI sesuai Pasal 10 Undang-undang dasar 1945. Atas hal itu, Sahat mengatakan Prabowo Subianto bisa memerintahkan pembentukan TGPF agar pengusutan dugaan keterlibatan anggota TNI dalam penyerangan Andrie Yunus berlangsung trasparan.
Penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus, kata Sahat, menjadi tidak sekadar tindak pidana penganiayaan biasa setelah Puspom TNI menyatakan telah mengamankan dan menahan empat prajurit TNI yang diduga terlibat adalah anggota Badan Intelijen Strategis atau BAIS.
"BAIS TNI bukan intelijen keamanan yang bekerja seperti intelijen Polri. Menjadi aneh jika anggota BAIS TNI terlibat kekerasan terhadap aktivis. Apa yang dilakukan Andrie Yunus dengan mengkritik perluasan peran militer di lingkungan sipil bertujuan agar TNI profesional sebagai kekuatan pertahanan. Seharusnya berterimakasih, bukan malah menyerang Andrie Yunus," jelas Sahat.
Penyerangan terhadap Andrie Yunus, ujar Sahat secara langsung atau tidak langsung juga telah menyerang KontraS yang kerap mewakili sikap warga sipil terkait posisi TNI dalam konteks peran militer di masa demokrasi.