Tim Medis Rapala Sebut Warga Terdampak Bencana di Aceh Tamiang Terserang Penyakit
- Istimewa/VIVA Medan
VIVA Medan - Penyintas bencana di Kabupaten Aceh Tamiang kini mengalami sejumlah penyakit, yakni diare, gatal-gatal, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan lainnya menjadi masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan di wilayah terdampak banjir.
Hal ini hasil pendataan dan pemeriksaan yang dilakukan Tim Kesehatan PT Raya Padang Langkat (PT Rapala) yang diinisiasi pimpinan perusahaan Paul Baja Siahaan atas aksi kemanusiaan pengobatan gratis di Dusun Tani, Kampung Gelong, Kecamatan Seruway, Aceh Tamiang, pada Kamis 15 Januari 2026.
Kampung dengan jumlah 230 Kepala Keluarga (KK) ini masih harus berjuang mengatasi dampak banjir terutama sisa lumpur yang masih tertinggal, ditengah proses pemulihan pasca bencana. Usai banjir surut, lumpur yang mengering menjadi debu dan menyelimuti pemukiman terutama bila ada kendaraan yang melintas.
Menurut dr Azkarunia salah seorang tenaga medis dari tim kesehatan PT Rapala mengatakan, debu yang beterbangan terbawa angin memicu meningkatnya kasus ISPA. Bila kondisi ini tidak segera diatasi akan berdampak mengkhawatirkan bagi kesehatan warga terutama bagi anak-anak dan manula.
"Kondisi desa yang berdebu serta sanitasinya yang belum memadai pastinya akan semakin mempersulit pemulihan warga," kata dr. azka menjelaskan.
Atas persoalan tersebut dr. Azka beserta tim kesehatan PT Rapala mengimbau warga yang datang berobat, untuk selalu menggunakan masker sebagai upaya pencegahan. "Melihat kondisi desa ini yang masih dipenuhi debu, kita mengimbau warga agar selalu menggunakan masker atau menutup mulut dan hidung dengan menggunakan kain saat beraktivitas diluar rumah," jelas Azka.
Selain persoalan ISPA lumpur yang terbawa banjir juga menutup parit dan saluran pembuangan warga. Bila hujan kembali turun wilayah desa ini kembali tergenang air karena saluran parit yang tersumbat.
Kadus Dusun Tani, M Adnan mengatakan, pihaknya sudah mengajukan permintaan kepada otoritas setempat agar dilakukan pengangkatan lumpur yang menutupi parit warga. "Kami butuh alat berat seperti backhoe untuk mengangkat lumpur dari saluran parit desa," kata Adnan berharap.
Sementara staf perwakilan kantor direksi PT Rapala, Divai Pasaribu mengatakan selain memberikan layanan kesehatan gratis kepada warga, timnya juga masih melakukan survei ke desa-desa terdampak lainnya, untuk mengetahui kebutuhan warga sebagai upaya pemulihan pasca banjir.