Aksi Cipayung Plus Sumut Minim Substansi, Ricuh karena Lemahnya Manajemen

Unjuk rasa di DPRD Sumut.
Sumber :
  • B.S.Putra/VIVA Medan

VIVA Medan –Siang itu, Rabu 27 Agustus 2025, suasana di depan Gedung DPRD Sumut awalnya tampak biasa saja. Ratusan siswa yang mengatasnamakan diri sebagai Cipayung Plus Sumut berkumpul dengan atribut organisasi masing-masing. 

img_title Dukung Perda Khusus Narkoba di Sumut, Salman Alfarisi: Pemberantasan Membutuhkan Kerja Sama yang Kuat

Namun, dari awal terlihat jelas aksi ini tak memiliki arah yang kuat. Tak ada selebaran berisi tuntutan, tak ada dokumen yang menguraikan masalah nasional ataupun isu spesifik di Sumut.

Beberapa mahasiswa yang ditemui wartawan bahkan kebingungan saat ditanya tujuan aksi. “Saya ikut kawan-kawan saja bang,” ujar seorang peserta dengan polos.

img_title Kabut Asap Selimuti Sumut, Cek Titik Kualitas Udara di Kota Medan

Minimnya konsolidasi tampak dari cara massa musim panas. Mereka terlihat tercerai-berai, tidak ada komando yang jelas. Mobil komando yang biasanya menjadi pusat proses malah diisi orasi kosong. 

Kata-kata yang disampaikan lebih banyak retorika tanpa isi. Bahkan, kadang terdengar makian keluar kasar dari pengerasan suara. "Polisi anjing!" teriakan seorang orator. 

img_title Kabut Asap Selimuti Wilayah Sumut, BMKG Catat Kualitas Udara : Kategori Sedang Hingga Tidak Sehat

Ucapan itu kontan membuat wajah aparat berubah tegang. Keributan yang sebenarnya tidak perlu, justru dipicu oleh lemahnya kontrol di tubuh Cipayung Plus sendiri.

Ironisnya, ketika azan Ashar berkumandang, massa aksi tetap mempertahankan orasi. Tidak ada pemadaman sementara, tidak ada penghormatan pada suasana. 

Justru, sebagian dari mereka mulai melempari aparat dengan tomat busuk. Provokasi inilah yang kemudian menyulut kemarahan kepolisian.

Aparat yang sebelumnya bertahan akhirnya membalas. Barisan polisi mulai mendorong massa. Dari halaman Gedung DPRD Sumut, water canon dikeluarkan. 

Kepanikan pecah. Massa berlarian ke berbagai arah. Ada yang lari ke Jalan Kapten Maulana Lubis menuju Kantor Wali Kota Medan , ada yang melintasi ke Lapangan Benteng untuk menghindari kepungan. 

Namun barisan aparat yang berlapis membuat banyak siswa tak berkutik.bBeberapa orang berhasil ditangkap. Di antara yang diamankan adalah Ketua IMM Sumut, Rahmad Taufik Pardede. 

Penangkapan ini sontak membuat situasi semakin panas. Namun belakangan diketahui, setelah suasana mereda, pihak kepolisian telah melepaskan kembali mahasiswa yang ditangkap tersebut.

Fakta bahwa massa yang ditangkap segera dilepas menunjukkan bahwa polisi pun tampaknya memahami akar persoalan bukanlah kriminalitas, melainkan buruknya manajemen aksi.

Halaman Selanjutnya
img_title