Transformasi Digital, Distribusi Energi Si Melon Tepat Sasaran

Seorang petugas menyusun tabung gas LPG 3 kilogram.
Sumber :
  • BS Putra/VIVA Medan

"Program ini, sangat baik. Kami sudah melakukan pencatatan secara digital. Setiap konsumen kami meminta KTP atau KK untuk dimasukkan (catat) di dalam aplikasi," kata Eben kepada VIVA Medan.

Ia mengatakan pihaknya mengalami kesulitan ketika masyarakat menolak memberikan KTP dan KK. Sehingga harus diberikan pemahaman terlebih dahulu, sehingga konsumen tersebut, paham.

"Iya, pas aku minta KTP dan KK menolak ada ibu-ibu. Kenapa beli gas ini, saja harus pakai KTP dan KK. Setelah kita jelasi dengan baik, ibu itu mengerti. Karena, apa dilakukan Pertamina untuk kebaikan dalam menyalurkan gas LPG 3 kilogram ini," ujarnya.

Lanjut, ia menambahkan sejauh ini pencatatan data tersebut, melalui aplikasi tidak ada masalah. Malah sebaliknya, mempermudah dalam melakukan transaksi."Tidak ada masalah, berjalan baik dan bagus," ucapnya.

Terpisah, seorang mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara, Vina Amira mendukung Pertamina dalam pendistribusian energi, baik itu BBM dan gas LPG menggunakan aplikasi dan dilakukan secara digital.

"Ya, sudah saatnya pendistribusian BBM dan gas, mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. Sehingga dilakukan secara digital. Pasti, ada plus dan minusnya. Namun, harus dilakukan, karena pengawasan dilakukan sangat muda," katanya kepada VIVA Medan.

Ia mengatakan bahwa Pertamina mengatakan pengawasan melakukan aplikasi, bisa memantau pendistribusian dari hilir ke hulu. Termasuk, dapat mencegah penyelahgunaan setiap pendistribusian energi tersebut.

"Jadi, kalau menggunakan aplikasi. Dari mulai produksi hingga BBM dan LPG dibeli masyarakat dapat dilakukan pengecekan dan pemantauan dengan baik. Sudah pas tingkatkan pelayanan energi berbasis digital dilakukan Pertamina saat ini," ujarnya.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengungkapkan bahwa keberhasilan Pertamina dalam mendistribusikan Bio Solar secara digital. Seharusnya, menjadi awal dari digitalisasi penyaluran energi si melon bersubsidi kepada masyarakat. 

"Tantangan penyaluran LPG bersubsidi secara digital menghadapi masalah yang lebih kompleks dibandingkan dengan BBM bersubsidi. Salah satu tantangannya adalah terkait ketersediaan data masyarakat penerima LPG bersubsidi," kata Gunawan kepada VIVA Medan.

 

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin.

Photo :
  • Istimewa/VIVA

 

Gunawan menjelaskan bila BBM bersubsidi itu kita bisa mengklasifikasikan kendaraan yang berhak menerima subsidi atau tidak. Setidaknya kendaraan mencerminkan profil pemiliknya.